2012/04/23

Protesku

Sama seperti seminggu lalu
Hari ini ku protes lagi
kuserukan penolakan tanpa henti
Namun tetap beragumentasi

Kenapa ku Protes lagi?
Apa sudah benar aku ini?
atau sekedar nafsu hati
yang sebenarnya tak berarti

Aku protes karena aku berfikir
yang tidak benar harus berakhir
jangan biarkan mereka terus mengukir
tinta hitam tanpa akhir

Protesku tanggungjawabku
sikapku integritasku
biarlah ini menjadi jejaku
yang tak ingin terus berpangku

Fajri-24 April 2012

2012/04/19

Bajaj: Sensasinya Terus Eksis Di Jalanan Ibukota

Dari kecil saya kenal transportasi "bajaj" itu sebagai kendaraan khas Jakarta. Warnanya orange, rodanya tiga, dan kendalinya bukan pada stir kaya mobil, tapi stang kaya motor. Karena saya kecil di bogor, maka bayangan saya akan bajaj ga beda jauh sama "bemo".

Pertemuan pertama saya sama bajaj itu waktu TK jalan2 ke Dufan, di Jakarta. Dari saat itu saya mulai familiar dengan bentuknya, yang ternyata ga persis seperti bemo, lebih khas bentuknya. Sayangnya dalam pertemuan pertama itu saya ga sempat mencoba, karena saat itu bajaj-nya hanyalah pajangan yang dipamerkan. Walhasil saya hanya mendapat gambaran visual saja akan bajaj yang selama ini hanya "katanya" saja.

Praktis setelah itu saya tidak pernah bertemu lagi dengan bajaj, hanya melihatnya saja di TV, atau gambar-gambar di koran atau majalah. Kondisi ini terjadi sampai saya kuliah, karena dari TK sampai SMA saya terus berdomisili di Bogor, dan kalaupun ke Jakarta ya pake mobil pribadi. Pada saat kuliah pun sebenarnya saya sudah sempat mencoba untuk pertama kalinya, tapi sangat singkat, karena waktu itu belum sampai satu KM bajaj sudah mogok. Walhasil karena harus cepat, jadinya meneruskan perjalanan dengan naik taksi.

Pengalaman saya pertama menaiki bajaj adalah ketika setelah lulus kuliah. Pada saat itu saya hendak ke suatu tempat dan di sekitar situ tidak ada ojeg, moda transportasi yang biasa saya gunakan. Daripada lama, akhirnya saya stop bajaj dan menaikinya. Itu pertama kali saya merasa excited naik bajaj, luar biasa! sensasi getarannya mengalahkan getaran bemo yang sudah cukup familiar untuk saya. Dan dengan dikendalikan menggunakan stang, ternyata bajaj lebih fleksibel dibandingkan bemo. Ditambah lagi pada saat itu suasana jalan kosong karena bukan di jalan ramai, jadi bajaj lumayan leluasa dalam mengeksplorasi jalan dengan kecepatan tinggi.

Berbekal pengalaman pertama saya pun ketagihan naik bajaj. Sampai satu waktu, saya mencoba kembali mengguankan bajaj. kali ini jalannya ramai, jalan protokol di Jakarta. Ternyata sensasinya berlipat ganda! wow! Bajaj ini ga ragu untuk bergulat dengan mobil-mobil lain bahkan motor, dan terlihat beberapa kali motor bahkan "segan" dengan bajaj. sepertinya karena memang mereka berpikir ga ada untungnya kebut-kebutan sama bajaj :).

Dari pengalaman itu saya banyak belajar bagaimana akhirnya moda transportasi seperti bajaj, yang umurnya relatif tua dan kuno (mulai diimpor ke Jakarta pada tahun 1975, www.jakarta.go.id), harus bergulat dengan kendaraan-kendaraan lain yang lebih modern dan canggih. Begitu juga dengan manusia, dengan umur yang terus bertambah, seseorang harus bersaing dengan anak2 muda yang relatif lebih lincah dan bertenaga. Tapi buktinya bajaj masih tetap ada sampai sekarang, masih eksis dijalanan ibukota!

Namun, dalam sejarahnya bajaj pun sempat mengalami cobaan. Dari mulai diberhentikannya impor pada tahun 1980, sampai "penertiban" yang terus berjalan dari tahun 1982 sampai tahun 90-an. Bahkan mulai 2001, Pemprov Jakarta mulai memperkenalkan saudara tirinya, yaitu "Kancil", yang pelan-pelan diproyeksikan mampu menggantikan kebutuhan masyarakat akan bajaj. Tetapi apa yang terjadi? Bajaj tetaplah bajaj yang tetap menghiasi sejarah panjang Kota Jakarta. Fakta ini juga yang kemudian menunjukan bahwa pengalaman akan cobaan bisa membuat seseorang tetap eksis dan bertahan dengan pemikiran serta sikapnya, tak peduli perkembangan zaman. Bajaj juga mengajarkan kita bagaimana untuk tidak pasrah pada keadaan atau bahkan rezim yang ada.



2012/03/04

Cerita Seorang Juventini

Bukan hal yang aneh sebenarnya untuk bilang kalau Laki-laki suka permainan sepakbola, baik nonton pertandingannya atau langsung main di lapangan. Walau fenomena beberapa tahun terakhir, masalah gender sudah bukan lagi penghalang untuk seorang perempuan menikmati permainan sepakbola. Terlebih bintang sepakbola Eropa memang terkenal dengan ketampanannya.

Saya adalah seorang penggemar olahraga sepakbola, apalagi nonton pertandingan sepakbola. Mungkin kebiasaan saya menonton pertandingan sepak bola sudah tepat juga untuk dijuluki footballholic. Permainan yang cepat dengan umpan2 pendek menjadi idaman saya dalam setiap pertandingan, apalagi kalau diakhir dengan Gol yang indah.

Untuk alasan itu pula kenapa saya memilih Juventus sebagai tim favorit. Permainannya yang khas dari kaki ke kaki dan tidak jarang menampilkan permainan yang berkualitas oleh pemain-pemain bintang didalamnya. Saya ingat betul, Final Liga Champion 1995 yang membuat saya menjadi "Gila Bola" seperti sekarang ini. Kala itu Final menampilkan Juventus vs Ajax. Kedua tim ini merupakan tim besar, bahkan sampai sekarang. Juventus saat itu masih diisi oleh pemain-pemain seperti Ravanelli, Vialli, Di livio, sampai sang penjaga gawang Angelo Peruzzi. Sementara Ajax masih dihuni Van der Sar, Davids, sampai Kluivert. Pertandingan berjalan seru, dan harus melewati tambahan waktu, untuk kemudian diakhiri dengan adu Penalti. Akhirnya Juventus keluar sebagai juara dengan mengalahkan Ajax lewat adu penalti. Entah kenapa pertandingan itu terus membekas dalam ingatan saya, sehingga sampai beberapa tahun setelahnya saya begitu tergila-gila dengan Juventus.

Kegilaan saya terhadap sepak bola memang sudah tidak separah dulu. Dahulu saya sampai menjadikan nonton bola adalah agenda wajib, bahkan tidak ada yang bisa menggantikan, bahkan sampai mengorbankan waktu dan kegiatan lain. Nonton bareng di beberapa tempat juga kerap saya lakukan, demi mencari suasana baru dalam nonton bola, biar lebih seru.

Sekarang pilihan waktu bersama keluarga atau bahkan hanya untuk istirahat sudah menjadi prioritas utama. Nonton pertandingan sepakbola hanya untuk waktu-waktu yang senggang saja. Selain karena aktivitas bekerja yang lebih padat dari sebelumnya, kemajuan teknologi seperti adanya youtube atau berita online menjadikan berita dan tayangan ulang pertandingan lebih mudah didapat. Selain itu, memang dari awal kegilaan saya akan sepak bola dan Juventus bukanlah hal yang masuk kedalam golongan fanatik, karena semuanya hanya untuk hiburan pengisi waktu saja.


2012/02/20

BERLARILAH DENGAN MIMPI

Ga jarang orang menyepelekan arti dari mimpi atau cita-cita. Ungkapan "Let it flow" atau "Gimana Nanti-lah!" bisa jadi awal pertanda seseorang yang memang ga punya mimpi dalam hidupnya. Memang banyak faktor yang bisa menjadi penyebab, bisa dari dalam diri orangnya atau dari lingkunagnnya.

Saya harus terus bersyukur karena dilahirkan sebagai seorang pemimpi, dan mimpi-mimpi itu mampu ditopang oleh kondisi lingkungan dan kemampuan yang sepadan. Saya ingat ketika SD saya cenderung tidak muluk-muluk memilih SMP tujuan, tetapi karena orang tua memotifasi untuk mencapai yang terbaik, maka saya pun menurut saja dengan pilihan itu. Saya hanya bermimpi kelak di SMP nanti saya harus bisa cari teman baru, tidak bermain dengan itu-itu saja seperti di SD. Dan untuk itu saya harus ikut banyak kegiatan. Terbukti ketika masuk SMP, saya ikut banyak kegiatan, dan tentunya kenalan dengan banyak orang.Walaupun saya akhirnya tidak terlalu aktif dalam organisasi formal, walaupun tidak jarang saya mengikuti kegiatan-kegiatannya selayaknya anggota organisasi tersebut :).

Orientasi ketika masuk SMA pun sama seperti itu, mimpi saya bukan dimana saya akan bersekolah, tetapi apa saja yang akan saya lakukan nanti. Motivasi ingin masuk SMA favorit saat itu adalah merasa bersalah ketika tidak masuk SMP paling favorit, jadi ya akhirnya berusaha, dan berhasil! Mimpi saya ketika masuk SMA adalah aktif berorganisasi. alasannya? pengen aja, mimpi aja bisa punya ide sendiri dan merealisasikannya sendiri! Walhasil dari awal masuk saya sudah aktif organisasi sampai akhirnya lulus dari SMA tercinta.

gimana pas masuk kuliah? Saya sudah punya cita-cita mau masuk jurusan apa, ketika masih kelas 2 SMA, dimana sata itu saya dihadapkan pada pilihan untuk masuk kelas IPA atau IPS. Saya terinspirasi dengan banyak hal untuk satu hal, yaitu rasa ingin tau lebih bayak dan mendalam tentang dunia hukum! Banyaknya pelanggaran saat itu, banyaknya orang yang mengaggap remeh soal aturan membuat saya penasaran, hukum itu ada ga sih? Dari situ, saya pilih IPS, untuk kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi dengan jurusan HUKUM!

Mimpi itu yang terus memberi saya semangat dan tenaga lebih untuk mempersiapkan diri mengikuti SPMB. Nilai try out saya ga pernah masuk nilai minimal untuk masuk PTN yang saya mau saat itu, tapi (lagi) mimpi itu yang seolah membisikan, "Ga masalah Bos, Lanjutin aja!" dan bibir ini pun tersenyum kembali. Benar saja, mimpi itu sudah secara menakjubkan membantu saya masuk ke PTN terkemuka di negeri ini dengan Fakultas Hukum terbaiknya. Dari situ saya mulai semakin sadar kalo sang mimpi bukan lagi pelengkap dalam fase-fase hidup ini, tapi justru sebagai bahan bakar utama menopang fisik dan keyakinan ini mencapai segala cita-cita.

Tidak berhenti disana, di dunia kuliah sang mimpi semakin menjadi. Mimpi itu pula yang membuat saya keluar dari zona aman dan terus mencoba hal-hal yang baru, yang tidak semua orang bisa dna berani meraihnya. Mimpi itu pula yang berhasil membuat kaki palsu ini menjadi nyata dalam melangkah dan kuat menopang dalam lelah.

Sekarang sang mimpi sudah menjadi teman sejati sehari-hari. merumuskan langkah demi langkah, fase demi fase, sampai terkadang berlebihan ketika sudah mendahului ketetapan Allah SWT. Tapi itulah makna optimisme yang saya pahami. Mimpilah yang membuat saya sampai hari ini, dan akan terus melesat ke udara dan menghujam ke bumi, sampai akhirnya satu mimpi akhir tercapai: berakhir dengan Khusnul Khotimah, Amin!



BUAH MANIS ITU ADALAH PENGALAMAN


Sudah dua tahun lalu saya merasakan masa-masa dimana ga mudah dapat pekerjaan. Cita-cita saya sebenarnya sederhana, ingin bekerja ditempat dimana ilmu yang saya miliki bermanfaat, dan kebermanfaat itu bisa langsung bentuk kontribusi buat Negara. Pada saat itu saya memilih jalur seleksi PNS untuk merealisasikannya. Bagi seorang fresh graduate di negeri ini, pasti sudah bukan hal yang aneh untuk langsung mendaftar menjadi CPNS, masih banyak yang berfikir kalo menjadi PNS akan sejahtera. Walau tidak jarang makna sejahtera itu juga berbeda setiap orang.

UPAYA YANG DIGAGALKAN
Saya sempat mendaftar ke tiga kementerian berbeda. Penuh cerita dan pengalaman dalam masa-masa pendaftaran hingga seleksi itu. Pada Kementerian pertama saya dibuat kaget dengan jumlah pelamar yang luar biasa banyak. awalnya saya berfikir bahwa penyerahan persyaratan hanya akan memakan waktu 1-2 jam, jadi saya pun tidak datang sepagi mungkin, tapi agak santai saja. Setelah sampai lokasi, saya kaget karena antrian pelamar sudah begitu mengular, padahal itu baru 30 menit berlalu dari dibukanya penyerahan berkas. Sempat ingin pulang saja, tetapi karena sudah izin untuk mendaftar kepada orang tua, ya saya jalani saja lah! Walhasil, waktu saya terbuang hampir 7 jam, hanya untuk menyerahkan berkas dan mengisi formulir. Pada Kementerian ini saya hanya bertahan sampai tes tertulis, dimana saya dianggap gagal, tetapi sampai sekarang saya tidak tahu kenapa bisa gagal.
Kapok?! ternyata tidak! Entah kenapa saya kembali berusaha untuk mendaftar menjadi CPNS di Kemeterian lain. Kali ini saya sudah lebih siap dengan datang lebih awal, dan hasilnya sukses, saya berhasil tidak lama mengantri. Tapi kali ini berkas saya dinyatakan gagal! kenapa? hanya karena ijazah saya ditandatangani oleh Wakil Dekan, karena Dekan sedang tidak ada ditempat saat itu. Merasa aneh dengan kebijakannya saya berusaha terus bertanya sampai saya khusus diarahkan kepada penanggunjawab, namun sayangnya sang penanggungjawab tidak menerima alasan apapun, yang berarti saya ditolak mentah-mentah (sampai saat itu saya ingat betul pengalaman pertama saya digiring oleh Satpam :)). Kesal? Pasti! saya merasa tidak diberi kesempatan.
Setelah ditolak dua kali merasa mulai kapok. Tapi beberpaa hari kemudian ada CPNS di kementerian yang saya incar dari awal, dan tanpa buang waktu ya saya siapkan lamaran. Kali ini saya pastikan semua tidak ada masalah, dengan berkaca dari dua seleksi sebelumnya. Beruntung, kali ini saya lolos dari seleksi administrasi dan seleksi tertulis. Namun sayang, seleksi berikutnya ada tes fisik. Saya yang seorang difabel tidak mendapatkan pilihan, dan tetap harus lari satu keliling kompleks pelatihan. Karena memang sudah niat, ya saya jalani dengan susah payah. Akhirnya saya bisa masuk finish dengan waktu yang tidak melebihi batas maksimal, dan saya berada di urutan ke-3 dari belakang :). Namun ternyata tes fisik itu juga seleksi, dan urutan saya yang berada dibawah harus rela tereliminasi. Untuk yang ini saya tidak bisa beralasan panjang lebar, karena kegagalan saya jelas. Walaupun ada diskriminasi yang masih saya tidak bisa terima.

TITIK BALIK MAKSIMUM
Tidak kehilangan akal, demi mewujudkan cita-cita, akhirnya saya bergabung di lembaga hukum independen. Lembaga yang bergerak dibidang penelitian hukum, namun juga aktif dalam kegiatan-kegiatan dalam rangka reformasi hukum di Indonesia. Disini saya mendapat apa yang saya mau, berkarya sesuai dengan ilmu yang saya punya, dan pastinya ikut berkontribusi bagi bangsa dan negara. Dari lembaga ini pula saya mulai sadar, kalo cita-cita saya itu tidak hanya bisa didapat kalo jadi PNS. Satu lagi yang lebih penting adalah makna kesejahteraan yang saya dapat melebihi ekspektasi awal. Kesejahteraan yang bukan sekedar materi, tapi lebih dalam dari itu.
Melalui lembaga ini beberapa kali saya mampu menyumbangkan ide untuk isu-isu tertentu, dan tidak jarang akses tersebut sampai mengintervensi kebijakan internal, hal yang buat saya sangat membanggakan, diantara kondisi dimana masih ada jutaan orang diluar sana yang masih hanya memikirkan perutnya sendiri. Kesempatan bertemu dengan pucuk pimpinan pada instansi terkait untuk menyumbangkan gagasan, terlebih ketika gagasan itu diterima, membuat saya merasa memetik buah dari kesabaran dan usaha saya dimasa lalu. tanpa harus menggadaikan harga diri dan idealisme, impian saya bisa terwujud.
Namun, memang apa yang saya berikan belumlah seberapa. Saya masihlah sebutir debu dalam padang pasir yang sangat luas. Banyak hal yang masih ingin saya kerjakan dan berikan untuk bangsa dan negara ini. masih banyak tanggungjawab yang harus dituntaskan sebagai seseorang yang beruntung dapat mengenyam pendidikan tinggi. dan masih banyak saudara-saudara yang memiliki harapan bahwa nasibnya akan berubah. Semoga perjalanan singkat ini bisa menjadi modal baik dalam menciptakan buah-buah karya yang terasa manis dan menyegarkan semua orang yang melihatnya.



2012/01/27

Cinta dan Cita-Cita

Beberapa hari yang lalu, saya melihat acara Mario Teguh, sang motivator handal, di salah satu TV Nasional. Dalam edisi itu ada seorang penonton yang bertanya tentang "Cinta dan Cita-Cita". Saya pikir, masalah "Cinta dan Cita-Cita" ini sudah jadi hal yang biasa bagi semua orang, atau bisa dibilang, semua orang pernah mengalami deh! Walau dibedakan dengan skala dan konteks makna kedua kata tersebut.

Dalam tayangan itu sang penonton bertanya "lebih baik memilih mana, Cinta atau Cita-Cita?". Tanpa bermaksud mengecilkan pertanyaan sang penonton, tapi pertanyaan itu terdengar klise dan biasa aja. Tapi sejenak saya berpikir tentang jawabannya, ternyata ga semudah mengucapkan pertanyaannya. Ya tepatlah apabila ditanyakan langsung pada sang motivator.

Tanpa berpanjang waktu, Sang Motivator menjawab pertanyaannya dengan panjang lebar, dan menurut saya agak abstrak, tipikal seorang motivator lah, dan memang pertanyaannya tidak disertai contoh kasus. Tapi ada satu poin yang saya tangkap. Dia bilang, "mengapa harus dipisahkan antara Cinta dan Cita-Cita? karena itu akan saling mendukung!". Sepakat!

Dengar jawabannya, saya jadi teringat apa yang terjadi kira2 dua tahun lalu. Ketika itu saya pun (akhirnya) dihadapkan pada "Cinta dan Cita-Cita". Bukan untuk sombong atau narsis, tapi saya harap cerita ini bisa menginspirasi banyak orang, terutama mereka anak muda yang sedang dihadapkan "masalah" yang sama, atau mereka anak muda yang sedang berpikir akan masa depan.

Ketika itu tepat setelah Saya akan menamatkan kuliah, atau sedang mengerjakan skripsi. Saat itu juga ketika saya selesai menunaikan tugas sebagai Ketua salah satu lembaga kemahasiswa di Fakultas dimana saya kuliah. Masa-masa itu terasa sangat berkesan karena baru saja melewati fase yang paling menantang sekaligus melelahkan dalam kehidupan kemahasiswaan saya. Tapi dibalik itu, ada pertanyaan yang membayangi "lalu mau apa kedepan?". Rencana masa depan selalu menjadi hal yang terbayang, maklum dengan kehidupan berorganisasi, saya terbiasa untuk merencanakan jauh-jauh hari apa yang ingin saya lakukan di masa depan, dan memang saat itu sudah ada kondisi dimana rencana masa depan sudah harus ditentukan.

Setelah selesai satu organisasi ternyata ada organisas lain yang menawarkan saya untuk berkontribusi. Organisasi ini cukup bergengsi, pantas kalau saya berpikir ini tantangan, dan jabatannya pun "wah!". Saya sangat tertarik dengan pilihan "Cita-Cita" ini!. Tapi disatu sisi ada pilihan "Cinta" yang menunggu keputusan. Saya mulai dekat lagi dengan seorang "perempuan idaman", teman SMA dulu, yang kali ini sepertinya pikiranku sudah tidak hanya "biasa" saja. Saya ingin memperistrinya, karena dia spesial, dan layak untuk diperlakukan terhormat. Ah! Sulit!

Disini, "Cinta dan Cita-Cita" mulai mempersulit hidup :) . Tapi untunglah, kesulitan yang ada disertai dengan petunjuk-Nya. Saat itu saya membaca suatu buku yang isinya ada beberapa hadits Rasulullah SAW, yang kira-kira menyebutkan "Menikahlah maka kamu akan menjadi kaya". Apabila dipikir dengan logika manusia memang sulit dibuktikan, apalagi secara matematis, karena rezeki itu sudah tak terhitung. Hadits itu kemudian jadi dasar saya untuk mencari dalam Al-Quran tentang rahasia dari menikah. Akhirnya saya dapat Surat ini:

“Dan nikah­kanlah orang–orang yang sen­dirian di an­tara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba–ham­ba sahayamu lelaki dan hamba-hamba sahaya yang per­em­puan, Jika mereka mis­kin Allah akan meng­ayakan mereka dengan karuniaNya. Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur [24] : 32)

Setelah baca Surat An-Nur diatas keyakinan mulai muncul akan "Cinta dan Cita-Cita". Ternyata memang Allah SWT, dalam Al-Quran, menganjurkan hambanya menikah. Jadi kasarnya kalo gitu, "mau ditunda kapanpun gw pasti bakal nikah!". Jadi kenapa ditunda?. Dan dari surat itu juga saya mulai tersadar kalo Cinta dan Cita-Cita bukan dua hal berbeda yang harus dipisahkan, karena apapun cita-cita saya, masih akan bisa tercapai walaupun sudah menikah. Bahkan bukankah akan lebih berwarna dan bersemangat kalau ciupayakan bersama dengan seorang belahan jiwa?. Dengan keyakinan penuh dan Bismillah! Sejak saat itu saya mantapkan hati dan pikiran untuk tidak memilih antara Cinta dan Cita-Cita, menjalankan keduanya (InsyaAllah) akan lebih indah karena janji-Nya.

Akhirnya saya pun menikahi Cinta saya, yang saya yakini akan mampu menjadi belahan jiwa serta sahabat dalam mengarungi setiap susah senang menggapai Cita-Cita. Pernikahan itu terjadi ketika kami berusia 23 tahun, usia yang sangat muda untuk menikah tentunya. Namun belum satu tahun, saya merasakan satu demi satu Cita-Cita saya dapatkan, dan yang paling indah adalah kelahiran putri pertama kami.

Alhamdulillah!



2012/01/17

JANGAN PERNAH BERUBAH

masih ada perasaan
yang tak menentu dihati
bila ingat sorot matamu
yang kurasa berbeda


     oh janganlah terjadi
     yang selalu ku takutkan
     beribu cara kan kutempuh


oh cintaku ku mau tetap kamu
yang jadi kekasihku
jangan pernah berubah


     selamanya kan ku jaga dirimu
     seperti kapas putih dihatiku
     tak kan kubuat noda




Marcell- Jangan Pernah Berubah

for my lovely wife...